Belajar Dari Kegagalan Seorang Pengusaha Startup Di Singapura

Memahami Cashflow Quadrant di Tengah Pandemi Covid-19
May 30, 2020

Belajar Dari Kegagalan Seorang Pengusaha Startup Di Singapura

Hello Guys, apa kabarnya? hari Griyausaha.com akan menceritakan pengalaman tentang bagaimana sebuah kegagalan bukanlah hal yang buruk, tetapi merupakan hal yang justru harus dilalui untuk digunakan sebagai pengalaman.

Kisah kali ini, kami akan membahas tentang kegagalan seorang pengusaha startup di Singapura bernama Khoo Kar Kiat dimana pada tahun 2016, dia sempat membuat startup makanan pesan antar melalui aplikasi kemudian makanan tersebut akan dikirimkan ke vending machines di lokasi-lokasi tertentu bernama fastbee.sg. Perusahaan baru ini sempat mendapat ekspos media karena mereka berhasil menemukan ide yang dianggap unik dan minim persaingan.

Pada tahun 2016, Fastbee.Sg didirikan dan sempat bertahan dalam kurun waktu 22 bulan. Sayangnya, perusahaan ini pada akhirnya gulung tikar karena akhirnya tidak mendapatkan investor hingga waktu-waktu terakhir.

Lalu bagaimana fastbee.sg bisa gagal? Mengapa sebuah usaha bisa gagal?

Fastbee sempat memiliki 10 vending machines yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan makanan pesanan customer di situ. Para customer yang sudah melakukan pesanan, bisa mengambil barang di vending machines yang menyerupai loker makanan tersebut. Pada masa ramainya, Fastbee bisa menerima 800 pesanan makanan dalam waktu 1 minggu.

Sayangnya, Kar Kiat lupa memperhatikan detail lainnya, sehingga eksekusi bisnis menjadi dianggap kurang matang. Bayangkan saja, apa yang akan terjadi jika bisnis pengiriman ini mendapat kendala pengiriman ketika ada para driver yang tidak masuk atau sakit. Hal inilah yang bisa membuat sebuah bisnis yang membutuhkan time pace menjadi bermasalah.

Kar Kiat, sang owner harus terpaksa melakukan pengantaran makanan sendiri, kemudian masalah lain adalah apabila ditemukan vending machines yang rusak seperti pintunya macet dan sebagainya, dia juga yang harus memperbaikinya. Masalahnya adalah time pace tadi, customer sering merasa frustrasi karena proses perbaikannya saja bisa memakan waktu beberapa jam, sementara jam makan siang hanya disediakan 1 jam.

Masalah paling besar yang membuat fastbee.sg terpaksa gulung tikar adalah tidak adanya pendanaan regular yang diberikan oleh para investor. Fastbee.sg sempat bisa beroperasi karena mendapatkan dana dari dukungan Angel Investor, namun waktu yang diberikan hanya 6 bulan dengan syarat Fastbee.Sg harus memiliki 10 gerai vending machines.

Pada saat pencarian lokasi untuk gerai ke-10, mereka sudah merasakan kesulitan keuangan. Mereka sempat berusaha untuk mencari beberapa investor lagi, sayangnya hal itu tidak berhasil. Kenyataan pahit pun harus mereka hadapi, Fastbee.Sg dinyatakan tidak beroperasi lagi pada Agustus 2018.

Tidak banyak orang yang mau bercerita tentang kegagalan mereka, padahal hal tersebut bukanlah sebuah aib. Kar Kiat adalah salah satu pelaku usaha startup yang dengan jiwa besar berani menceritakan hal ini. Dia membagi cerita ini kepada CNA (Channel News Asia) dan kisahnya dibagikan melalui artikel I’d do it all over again, says founder of failed start-up Fastbee yang dirilis pada Agustus 2018.

Kar Kiat sendiri sempat ragu untuk berbagi pengalaman dan mengatakan, “Mengapa saya harus berbagi cerita tentang kegagalan? Bukankah hal itu sangat memalukan dan sangat sulit. Saya sebenarnya tidak ingin bercerita banyak tentang hal ini. Saya berpikir apakah mereka akan menghargai pengalaman yang pernah saya lalui? Apakah saya nanti akan mendapatkan sebuah pekerjaan lagi?“. Namun kisah dia yang dibagikan melalui CNA justru mendapat support dan simpati dari banyak para pelaku usaha startup, bahkan diantaranya dari pemilik startup yang sukses. Para pengusaha muda ini memberikan dukungan kepadanya karena berani berbagi kisah kegagalan.

Sejak itu, dia ditawari berbagai pekerjaan dari perusahaan ventura global hingga startup-startup lokal di Singapura. Mereka merasa kegagalan yang dialami oleh Kar Kiat merupakan pengalaman yang sangat berharga dimana mereka tidak perlu melewati kesulitan-kesulitan yang dulu dilalui oleh Kar Kiat.

Kini, Kar Kiat menjadi pemimpin di sebuah usaha catering bernama Sats di Singapura. Sats sendiri kini menjadi salah satu perusahaan katering ternama di Singapura dan Asia. Menurut Kar Kiat, Sats adalah sebuah platform yang bisa meneruskan visinya terkait bagaimana manusia melakukan terobosan baru dalam pemesanan makanan.

Yes, Kegagalan adalah hal yang biasa dan tidak perlu disesali asalkan kita bisa memetik pelajaran dan pengalaman berharga di dalamnya. Pesan Kar Kiat, “Kegagalan mengajarkanku kalau saya adalah manusia yang bisa berbuat kesalahan, ketika kamu mampu melihat kegagalan adalah hal yang biasa, kamu akan berani menghadapi tantangan baru dan menghargai kejutan demi kejutan yang akan diberikan hidup kepada kamu“.

Bambang
Bambang
Seorang penulis yang memiliki passion di bidang investasi, usaha dan keuangan. Bercita-cita tinggi, namun suka menunda. Salam kenal, para investor dan pengusaha se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *