Memahami Cashflow Quadrant di Tengah Pandemi Covid-19

Belajar Dari Kegagalan Seorang Pengusaha Startup Di Singapura
May 30, 2020
Investor Saham Perlu Mencermati Tanda-Tanda Perusahaan yang Perlu Dihindari
May 30, 2020

Memahami Cashflow Quadrant di Tengah Pandemi Covid-19

Di tengah masa pandemi Covid-19 ini, tidak hanya di Indonesia, namun juga menjadi masalah global kalau PHK Karyawan ataupun pemotongan gaji sudah banyak dilakukan oleh perusahaan. Hal-hal ini tentu saja bisa memacu krisis ekonomi di dunia. Bahkan sudah ada beberapa cerita viral dari karyawan-karyawan yang terkena pemotongan gaji sudah beredar di media sosial, dimana salah satu yang cukup viral adalah ini,

“Saya seorang karyawan swasta dijakarta, gaji saya 20 juta/bulan, tapi setelah covid 19 ini saya hanya digaji separo hanya sekitar 10 juta/bulan, saya mohon bantuan dari pemerintah untuk makan anak istri karena sisa gaji segitu tidak cukup, karena saya ada cicilan mobil 4,5 juta/bulan ditambah saya ada KPR sekitar 5 juta/bulan, jadi sebulan saya hanya sisa 500 ribu, kalo cicilan saya tidak saya bayarkan bisa-bisa rumah dan mobil disita, itu gak cukup untuk susu anak saya, mohon pemerintah perhatikan kami Rakyat Kecil yang sampai saat ini belum dapat bantuan sosial (Bansos), terima kasih,”

Wah, gaji Rp. 20 juta masih dianggap insecure juga ya, tentu saja karena sumber pemasukan orang ini mungkin hanya satu dan sisa Rp. 500 ribu sebulan dianggap tidak mampu memenuhi gaya hidup dia yang sudah penuh dengan cicilan KPR dan KKB. Yah, entah benar atau tidak cerita di atas, ada baiknya kita memahami sedikit tentang cashflow quadrant.

Hal yang sering orang lupa perhatikan adalah membuat sumber pendapatan sebanyak mungkin. Baru-baru ini, Griyausaha.com kembali membaca-baca buku lama karena harus stay at home di masa pandemi ini. Ada satu buku yang sangat populer pada masanya berjudul Cashflow Quadrant yang dikarang oleh Robert T Kiyosaki.

Bagi yang belum pernah membaca buku ini sama sekali, sebagai ringkasan cashflow quadrant ini. Cashflow quadrant merupakan konsep tentang sumber pemasukan seseorang yang biasanya dibagi ke dalam empat kuadran yaitu E, S, B, dan I. Keempat kuadran ini diharapkan membantu mereka yang ingin mencapai kebebasan finansial agar bisa memilih kuadran yang tepat untuknya.

Griyausaha akan membagikan informasi terkait keempat kuadran tersebut beserta dengan kelebihan dan kelemahannya. Simak ulasan berikut ini:

1.Kuadran Pertama: E (Employee)

Sederhananya, kuadran pertama ini adalah kuadran yang paling banyak diisi oleh orang, yaitu menjadi karyawan dan memiliki penghasilan berupa gaji. Banyak sekali orang yang mengandalkan gaji untuk menjadi sumber pendapatan utama mereka karena sejak kecil, semua orang diajarkan sekolah dan lulus dengan nilai baik agar bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bagus. Beberapa kelebihan orang-orang yang menjadi karyawan adalah sebagai berikut:

Satu hal yang menjadi kelebihan di kuadran Employee adalah: Keamanan, dimana kamu lebih memiliki fasilitas seperti gaji tetap, asuransi kesehatan, jaminan pensiun, dan lain-lain.

Sementara itu kelemahan di kuadran Employee adalah: Tidak adanya kontrol dalam hidup, yah di kuadran ini kamu bergantung sepenuhnya dengan kebijakan orang atau perusahaan yang menggaji kamu. Selain itu, di kuadran ini, kamu juga harus membayar pajak yang cukup besar dibandingkan kuadran lain.

2. Kuadran Kedua: Self Employee (S)

Kuadran kedua ini adalah Self Employee dimana kuadran ini sumber penghasilannya berupa pemasukan dari toko-toko atau usaha kecil yang dilakukan ataupun dari praktik profesi mereka seperti dokter, pengacara, guru les, dll. Beda dengan karyawan, kuadran ini memiliki sedikit kebebasan dibandingkan kuadran karyawan, namun besaran penghasilan tetap saja membutuhkan waktu kerja yang banyak di kuadran ini. Semakin besar usaha yang diberikan di kuadran ini maka semakin besar pula penghasilannya.

Kelebihan kuadran Self Employee adalah adanya sedikit kebebasan dibandingkan menjadi karyawan, kamu pemilik usaha kecil menentukan kebijakan perusahaan namun masih harus aktif dan terlibat dalam kegiatan perusahaan. Selain itu, di kuadran ini, kamu juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Kelemahan kuadran Self Employee adalah karena kamu harus aktif dan terlibat dalam kegiatan usaha kamu, maka terkadang waktu bekerja kamu harus lebih banyak dari karyawan biasa. Mereka yang di kuadran ini terkadang bekerja 12 jam perhari bahkan harus tetap bekerja di akhir pekan untuk usaha mereka.

3. Kuadran Ketiga: Business Owner (B)

Hampir mirip dengan kuadran kedua, kuadran ketiga adalah Business Owner (B) yaitu pemilik usaha juga namun dalam skala lebih besar. Maksud dari skala lebih besar itu adalah pemilik usaha tidak terlalu terlibat lagi dalam kegiatan usaha karena sudah ada sistem dan orang yang menjalankan usaha ini. Orang-orang yang di kuadran ini adalah pemilik franchise (waralaba), pemilik pabrik, dan pemilik perusahaan-perusahaan.

Kelebihan di kuadran ini adalah kamu lebih bebas dan hanya mengandalkan orang yang lebih pintar untuk menjalankan usaha kamu. Kelemahan di kuadran ini apa donk, tentu saja modal. Untuk bisa memiliki sistem dan orang yang mau bekerja untuk kamu tentu saja diperlukan modal yang besar.

4. Kuadran Keempat: Investor (I)

Kuadran keempat ini adalah kuadran yang paling diminati banyak orang yaitu melakukan investasi dan berharap ada pengembalian keuntungan dari hasil investasi yang kamu lakukan. Di kuadran ini, uang kita bekerja menghasilkan uang walaupun kita hanya tidur saja.

Beberapa hal yang lazim diinvestasikan pada zaman ini adalah properti, saham, royalti, kreditur fintech, deposito dan emas. Semua hal yang diinvestasikan diharap bisa mengembalikan return secepatnya.

Kelebihan di kuadran ini adalah cocok bagi kamu yang memiliki uang banyak namun tidak perlu repot dan terlibat dalam kesibukan sehari-hari. Kelemahan di kuadran ini adalah resikonya agak tinggi apabila kamu tidak memiliki pengetahuan akan produk yang kamu investasikan. Biasanya orang tidak bisa membedakan menjadi seorang investor dengan seorang spekulan, berhati-hatilah di kuadran ini dengan melakukan investasi yang tepat dan aman.

Beda Active Income & Passive Income

Jika kamu sudah memahami sumber pemasukan seseorang dari keempat kuadran di atas, maka kamu bisa membandingkan bagaimana kuadran E & S menukar waktu mereka dengan penghasilan. Sementara kuadran B & I tidak perlu menukar waktu mereka dengan uang karena sudah ada sistem, orang dan uang yang bekerja untuk menghasilkan uang.

Bagi mereka yang masih menukar waktu mereka dengan bayaran uang maka mereka masih berada di zona active income. Sementara mereka yang sudah bisa tidur, namun masih menghasilkan uang maka dia berada di zona passive income.

Di masa-masa Covid-19 ini, ada baiknya kita lebih memperhatikan dan memikirkan bagaimana secara perlahan kita bisa beralih dari kuadran E&S ke kuadran B&I sehingga ke depannya kita tidak perlu memikirkan bagaimana pemasukan kita apabila kita di PHK atau dilakukan pemotongan gaji sebagian.

Bambang
Bambang
Seorang penulis yang memiliki passion di bidang investasi, usaha dan keuangan. Bercita-cita tinggi, namun suka menunda. Salam kenal, para investor dan pengusaha se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.