Strategi Investasi Saham di Tengah Krisis

Top 10 Kesalahan Mengelola Uang (Money Mistakes) yang Harus Dihindari
June 13, 2020
Kesalahan-Kesalahan yang Sering Dilakukan dari Para Investor Saham
June 14, 2020

Strategi Investasi Saham di Tengah Krisis

Krisis di pasar modal sudah beberapa kali terjadi di Indonesia, sebut saja Krisis Moneter 1998, Krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang berimbas ke Indonesia pada 2008 dan kini yang terbaru adalah Krisis Covid-19.

Dua krisis sebelumnya berhasil dilalui oleh pasar modal kita, bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi indikator pergerakan harga saham di BEJ mencapai puncaknya pada tahun 2018 dengan 6.689,287 poin (posisi Intraday). Jadi krisis sebesar apapun sudah dilalui para investor berpengalaman, sehingga banyak yang tidak panik di kala berat bagi IHSG seperti saat ini.

Kini 2 tahun berselang, IHSG kembali porak poranda akibat diguncang krisis Covid-19. Virus mematikan ini tidak hanya membawa pengaruh buruk ke ekonomi Indonesia tetapi juga ke ekonomi global sehingga sering dianggap sebagai krisis paling buruk apabila dibandingkan dengan krisis 1998 dan 2008.

Jika pada 1998 terkait ekonomi dan 2008 terkait psikologis masyarakat maka krisis Covid-19 di tahun 2020 ini adalah krisis akibat pandemi yang berakibat membuat seluruh ekonomi terganggu, dari produksi dan permintaan global menjadi kacau. Ekspor menurun, impor bahan baku terlambat dan jaringan logistik terimbas lockdown di banyak negara.

Lalu apakah IHSG akan bisa kembali perkasa seperti krisis-krisis yang sudah dilalui sebelumnya? Jika kita tidak ada pengalaman sebelumnya, maka kita bisa belajar dari pengalaman banyak pakar saham dunia dan Indonesia yang sangat optimis kalau bursa saham akan kembali mengalami peningkatan walaupun waktunya belum diketahui.

Strategi Investasi Saham di Masa Krisis

Sebagai investor yang ingin mendulang profit di masa sesulit apapun, ada beberapa hal yang harus kamu siapkan untuk tetap bisa memaksimalkan hasil di bursa saham Indonesia. Apa sajakah strategi investasi saham di masa krisis? Simak ulasan di bawah ini.

1.Tidak Usah Buru-Buru dan Pantau Informasi
Tidak ada orang yang bisa melakukan timing dengan benar-benar tepat waktu, bahkan pakar astrologi financial trading sekaligus. Investasi saham memang terkesan menarik di masa krisis ini, harga-harga saham Blue Chip sepertinya sangat menggiurkan namun berhati-hatilah jika masuk terlalu cepat karena saham yang kamu anggap murah bahkan bisa lebih murah lagi apabila keadaan ekonomi tetap memburuk. Tidak usah buru-buru bukan berarti tidak melakukan pembelian sama sekali, kamu bisa mulai membeli dalam jumlah kecil sebagai langkah awal.

2. Cash is The King, Siapkan Kas Sebanyak Mungkin
Pada saat krisis seperti ini, mereka yang memiliki uang kas dalam jumlah besar adalah mereka yang paling bisa memanfaatkan peluang seperti ini. Masuklah secara perlahan di bursa saham, ambil lah saham yang dinilai potensial seperti saham blue chip dan tambahlah saham secara dicicil, dan tidak usah buru-buru melakukan pembelian lump sum (sekaligus).

Bagi kamu yang memiliki dana deposito dan dana tabungan lebih, kamu boleh mengalihkan tabungan kamu secara perlahan ke instrumen saham ini.

3. Tetapkan Mindset Kamu Beli Saham Untuk Investasi Bukan Trading
Perasaan kamu akan terombang-ambing apabila kamu menggunakan uang panas untuk melakukan pembelian saham. Masuklah ke pasar modal dengan uang dingin dan tetapkan mindset kamu kalau kamu ingin melakukan investasi dengan membeli kepemilikan sebuah perusahaan, bukan saham untuk diperjualbelikan dalam jangka waktu pendek.

Mindset investasi membuat kamu tetap rileks kala saham yang kamu beli kembali jatuh. Malah kamu ingin menambah terus dan berharap harga murah ini bertahan sedikit lama agar kamu masih memiliki waktu untuk menambah koleksi saham kamu. Seorang investor yang membeli saham untuk investasi tidak khawatir dengan apapun yang terjadi di pasar modal dalam jangka pendek.

4. Pahamilah Rasio Keuangan dan Nilai Saham Perusahaan Tersebut.

Pada akhirnya, saham yang kamu beli di masa krisis ini adalah saham-saham yang harus bagus fundamentalnya dan jangan melakukan pembelian yang sifatnya spekulasi (tebak-tebakan), jika memungkinkan luangkan sedikit waktu untuk mempelajari rasio keuangan yang baik. Simpelnya, bagi investor yang agak sulit menghapal mungkin kamu cukup tahu rasio sederhana dengan logika sederhana seperti di bawah ini:

  • ROE, ROA, NIM (terkait profitabilitas, jika angkanya makin besar maka semakin bagus).
  • DER, PBV dan PER (terkait hutang dan indikasi mahal-murahnya sebuah saham, jika angkanya makin besar, maka indikasi ini tidak baik).

Namun sebenarnya masih banyak faktor lain dimana kita tidak bisa melihat mentah-mentah rasio-rasio di atas, namun sense dan pengalaman akan terbentuk dengan sendirinya ketika kita mencoba mengarungi arus gelombang IHSG.

Setelah memiliki saham-saham perusahaan di IHSG, maka evaluasilah secara berkala kinerja mereka melalui Laporan Keuangan perusahaan yang biasanya diupload di situs IDX ataupun situs perusahaan itu sendiri. Perusahaan publik umumnya merilis LK inhouse (belum diaudit) per 3 bulan sekali, bacalah informasi ataupun situasi ekonomi yang relevan dengan perusahaan kamu, sekiranya apakah efeknya bagi perusahaan dalam jangka panjang kemudian evaluasilah apakah kamu akan terus melakukan penambahan saham di perusahaan itu atau melakukan penjualan supaya tidak mengalami rugi yang lebih besar.

Bambang
Bambang
Seorang penulis yang memiliki passion di bidang investasi, usaha dan keuangan. Bercita-cita tinggi, namun suka menunda. Salam kenal, para investor dan pengusaha se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.