Bagaimana Pola Konsumsi Milenial Dibandingkan Generasi Sebelumnya??

Produk-Produk Ini Cukup Laris Dijual di Online Shop pada Tahun 2020 (Covid-19 Era)
September 12, 2020
Beberapa Cara Menghasilkan Uang Dari Internet di Era 2020
October 25, 2020

Bagaimana Pola Konsumsi Milenial Dibandingkan Generasi Sebelumnya??

Sudah bukan rahasia lagi, gaya konsumsi milenial memang agak berbeda dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Hal ini cukup menarik karena gaya konsumsi milenial dianggap boros dan tidak memikirkan masa depan namun ternyata kenyataannya generasi milenial juga tidak terlalu buruk loh dalam pengaturan keuangan mereka.

Diambil dari situs TheBalance, ada beberapa hal menarik yang ingin dibagikan terkait pola konsumsi milenial jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Beberapa hal menarik tersebut adalah:

  1. Beli Rumah
    Generasi milenial memiliki pola konsumtif yang berbeda sedikit terkait kebutuhan pembelian rumah. Jika pada era sebelumnya, kebutuhan kepemilikan rumah adalah hal yang sangat penting maka untuk era sekarang, para generasi milenial terlihat lebih santai dalam memutuskan pembelian sebuah properti.

    Pembelian properti dianggap kurang disukai oleh milenial karena ada banyak cost yang harus disiapkan sebut saja down payment, biaya maintenance, angsuran yang lama tenornya hingga lokasi rumah yang dianggap tidak memadai.

    Milenial cenderung lebih menyukai kontrak rumah di umur 30-an, berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih merasa aman apabila memiliki kepemilikan rumah.
  2. Makanan dan Restoran
    Nah untuk hiburan seperti nongkrong di restoran, cafe atau wisata kuliner bisa dikatakan saat ini generasi milenial merupakan target market yang besar. Generasi milenial tidak segan membeli kopi mahal, makanan mahal dan lokasi cafe yang mewah.

    Berdasarkan data analisa Modern Wealth Index dari Charles Schwab, 60% dari generasi milenial rela loh membeli secangkir kopi dengan harga Rp. 50 ribu dibandingkan generasi sebelumnya. Begitu juga dengan pembelian makanan di restoran dimana 79% generasi milenial rela membeli makanan mahal dibandingkan generasi sebelumnya.
  3. Biaya Transportasi
    Pengeluaran ekstra yang tidak diekspektasi akan menjadi salah satu beban biaya yang paling besar adalah biaya transportasi seperti taksi dan transportasi online. Generasi milenial suka dengan kemudahan, daripada lelah menyetir sendiri dan mencicil mobil kini anak milenial lebih senang naik taksi dan naik transportasi aplikasi online.
  4. Pensiun dan Perencanaan Keuangan
    Hal yang cukup mengejutkan bagi banyak orang adalah ternyata generasi milenial cukup melek loh dengan perencanaan keuangan di hari tua. Para milenial memiliki financial advisor dari teman atau kenalan dan sekitar 12% dari penghasilan mereka dilakukan untuk membeli produk keuangan atau perencanaan pensiun. Walaupun persentase dari penghasilan yang digunakan untuk masa depan tidak sebesar dulu namun data Charles Schwab menunjukkan 35% milenial memiliki perencanaan keuangan, angka ini jauh lebih baik daripada generasi X dan generasi baby boomer sebelumnya.
  5. Biaya Ekstra
    Belanja lain yang disukai oleh generasi milenial adalah belanja fashion dan juga belanja gadget. 75% dari kaum milenial sangat kompetitif dan tidak segan berbelanja pakaian mahal, dan gadget. Kalau tidak ada uang, yah penggunaa kartu kredit bisa menjadi pilihan pembelanjaan.

Hasil studi dari Charles Schwab, walaupun milenial dianggap boros namun generasi ini merasa aman dan wajar saja dalam penggunaan uang mereka. Sebagai contoh, 81% kaum milenial juga percaya diri dengan kemampuan mereka untuk menghasilkan uang dibandingkan 65% dari generasi X dan 54% dari kaum Baby Boomers.

Bicara soal pola konsumsi milenial, ada satu hal yang pasti yaitu generasi milenial rela berbelanja demi rasa kenyamanan, sebuah pengalaman untuk merasakan banyak hal dan hal itu tentunya berefek kepada penundaan pembelian rumah ataupun menikah untuk memulai sebuah keluarga.

Bambang
Bambang
Seorang penulis yang memiliki passion di bidang investasi, usaha dan keuangan. Bercita-cita tinggi, namun suka menunda. Salam kenal, para investor dan pengusaha se Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.